Rabu, 31 Agustus 2016

Keluarga

Apa arti keluarga bagimu?

Apakah menyenangkan bagimu memiliki sebuah keluarga?

Telinga dan mataku seringkali mengatakan bahwa keluarga adalah segalanya
Sayangnya, hatiku berkata lain

Sejujurnya, aku iri
Aku iri padamu, pada kalian, yang memiliki keluarga sempurna
Bukan berarti memiliki segalanya, namun selalu ada dan berusaha saat kau membutuhkannya

Mengapa tidak terjadi dalam keluargaku? Apa salahku? Apa kesalahanku karena aku terlahir dalam keluarga ini?

Tidak ada yang pernah bisa menjawab

Bahkan dalam ribuan sujudku yang lalu, Dia juga tak pernah menjawab

Selasa, 30 Agustus 2016

Iri

Hai, kamu

Aku iri padamu

Tidak biasa memang iri pada orang yang sedang kukasihi dengan sebegitu hebatnya

Aku iri pada kepakkan takdir sempurna yang hinggap di bahumu itu
Bahkan saat aku yakin benar bahwa tiada kesempurnaan dalam semesta ini, kau tetap kuanggap sempurna

Namun, mengapa kau tetap merasa kekurangan? Apa yang kurang dari hidupmu yang tak mampu kutemukan kurangnya itu?

Asal kau tahu, doaku adalah memiliki hidup sepertimu

Dan jika aku punya kesempatan untuk mengulang dan memilih sebuah kehidupan, akan kugunakan kesempatan itu untuk berada di hidupmu

Tembok Kaca

Mana yang menurutmu lebih menyakitkan, terjatuh saat berjalan, atau terjatuh saat terbang?

Dahulu, rasanya begitu menyenangkan
Saat di mana air mataku adalah senjata untuk mengabulkan setiap pintaku

Sampai saatnya semua itu berakhir, saat semua keinginanku tinggal keinginan semata

Masa bahagia itu terasa begitu dekat, terlalu dekat seakan aku bisa menyentuh dan mendapatkannya kembali
Layaknya melihat hal dari balik tembok kaca yang begitu jernih, jelas namun tak mampu kugapai


Sekarang di sinilah aku, terpaku menatap sayap yang telah patah, berharap dapat melihatnya terbang sekali lagi

Senin, 29 Agustus 2016

Takdir

Kau tahu kenapa aku begitu membenci takdir?

Karena ia tak bisa dirubah seberapa keraspun aku mencoba, seperti halnya masa lalu
Secepat apapun aku berlari, sekeras apapun aku berteriak, sederas apapun aku menangis, masa lalu itu tidak akan berubah, dia akan tetap sama dan menjadi abadi

Bukankah begitu menyakitkan saat kau sadar, bahwa masa lalumu yang begitu kelam sama sekali bukan salahmu? Seperti halnya terbakar sumbu api yang tidak pernah kau sulut ujungnya
Lukanya masih berbekas dan menyengat hingga saat ini, tanpa kau tahu pasti kenapa harus mendapat rasa sakit yang sedemikian hebat

Hal terburuknya, tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengobati masa lalu itu. Karena ia akan selalu diam, tidak bergerak, kekal dalam waktu dan ingatan

Minggu, 28 Agustus 2016

Garis Awal

Apakah menurutmu hidup ini adil?
Kalau kau tanyakan padaku pertanyaan yang sama, tentu tidak jawabku

Kau bisa bilang Tuhan itu Maha adil
Tapi, bukankah kita memulai semuanya dari garis awal yang berbeda-beda?
Tidak perlu menyangkal, aku sangat yakin kau juga melihatnya
Setiap dari kita menginjak tanah untuk pertama kalinya dengan keadaan yang tak serupa

Kau lahir dengan langkah yang begitu ringan, jauh lebih ringan dari langkah kotorku